Assalaamu’alaikum, warahmatullaahi wabarakaatuh.
Alhamdulillahirobbil’alamin..., asholatu’ala asrofil
ambiyai walmursalin. Wa’alaalihi waaskhabihi ajmangiin ... amma ba’du.
Yang saya hormati,
Kepala Sekolah SMK Panca Bhakti
Banjarnegara, Agus Supartono, SH, ST, MM.
Yang saya hormati,
Semua Wakil Kepala Sekolah SMK Panca
Bhakti Banjarnegara.
Yang saya hormati,
Guru dan Karyawan SMK Panca Bhakti
Banjarnegara
Yang saya hormati,
Wali Kelas XII TEI 1, Chevri Adri
Ermansah, ST
Serta,
Teman-temanku yang saya sayangi dan saya
banggakan.
Pertama tama marilah kita panjatkan puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rohmat, taufiq, dan
hidayahnya kepada kita sekalian. Sehingga kita masih dapat menikmati anugrah
terindahnya berupa kesehatan serta oksigen yang kita hirup tanpa harus membayar
sepeserpun.
Solawat serta salam mudah-mudahan tetap tercurahkan
kepada junjungan Nabi
besar kita Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita dari jalan yang gelap
gulita menuju jalan yang terang benderang
Sudara hadirin kaum muslimin
rahimakumullah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu
berhadapan dengan dua hal yang berlawanan. Dengan dua hal yang kontroversiiil
kata orang sekarang. Yang mana kita diharuskan memilih salah satu, di antara
yang dua itu. Sejak kita bangun tidur sampai kita tidur lagi, kita selalu
dihadapi oleh dua persoalan tersebut. Yang benar dan yang salah. Yang haq dan
yang bathil. Yang pantas dan yang tercela. Yang ma’ruf dan yang munkar. Persis…
seperti sebait lagu yang pernah ngepop dan banyak dinyanyikan anak sekarang,
madu di tangan kananmu, katanya. Racun, di tangan kirimu. Tapi saya
pikir-pikir, kalu cuman madu di tangan kanan, racun di tangan kiri, adressnya
jelas. Yang repot, kalu kita sudah tidak tahu lagi mana yang madu mana yang
racun. Lebih celaka lagi di zaman sekarang, banyak racun mereknya madu. Coba
liat di koran atau di majalah, ada iklan tertulis “gadis kesepian”, pil surga.
Kan ini racun ini, tapi mereknya madu.
Sehingga
zaman sekarang ada pepatah yang mengatakan, “zaman sekarang mah aki kolot
mangkuin perempuan, zaman sekarang mah cewek dongdot ngakuin perawan. Akhirnya
kata anak muda, zaman sekarang mah zaman pancaroba, kalu engga sekarang mah,
kapan lagi mao nyoba-nyoba. Nah luh! Kan gaswat kalu udah begitu?! Semuanya
dicobain, yang halal disikat, yang haraam diembat, yang remeng-remeng dilabrak.
Apalagi yang remeng-remeng mah. Engga pandang bulu, apa haram apa halal.
Poko’nya engga pandang bulu, apalagi yang bulunya banyakan. Siapa ya di sini
yang bulunya banyak? Yang penting mah indehoy katanya…
Padahal Rasulullah SAW jauh-jauh hari
telah mengingatkan kita, Saya’ti ‘ala ummati zamaanun, laa yabqal islaam illa
ismuh, walaa minal quraan illa rasmuh. Akan datang suatu masa di tengah umatku,
di mana pada masa itu, Islam ada, tapi hanya sekedar tinggal namanya saja. Dan
Al-Quran pun ada, tapi hanya tinggal tulisannya saja.
Di
tengah satu situasi dan kondisi semacem itu, ke mana anak-anak muda kita kelak
akan kita arahkan ?. Karena kita sebagai calon orangtua, bisa saja masuk neraka, kalau kita
tidak berhati-hati. Kalau kita tidak bertanggungjawab tentang akhlak anak-anak
kita. Satu riwayat menjelaskan, ada
orang shaleh. Shalatnya, rajin. Puasanya, bagus. Zakatnya, sering. Di mana ada
majlis ta’lim, dia hadir. Baca qur’an, hobi. Fitnah orang, tidak pernah.
membantu orang, suka. Di akhirat, setelah disidang dia. Ternyata lebih banyak
kebaikannya daripada kejahatannya. Maka diapun diperintahkan dan dipersilahkan
masuk ke dalem surga. Giliran anaknya, disidang. Ternyata biang preman nih
anak. Ditanya, siapa tuhanmu, tidak tahu. Siapa nabimu? Ora ngerti. Apa
kitabmu? Ora ora ngerti. Kamuuu, pernah sholat? Tidak. Zakat? Kaga. Puasa?
Apalagi. Judi, sering. Zinah, tiap
malem. Mabook? Paling demen. Nyimeeeng? Hobi. Wah, nggak beres. Kebaikan tidak
ada barang sedikit pun, sementara kesalahan dan dosa berlibat ganda. Kamuuu,
neraka. Anak ini protes. Benar, saya tidak kenal siapa tuhan saya, saya tidak
tahu siapa nabi saya. Saya tidak tahu kitab suci dan kiblat saya. Saya tidak
shalat, tidak zakat, tidak puasa, Tiap malam saya judi, saya zinah, saya mabok.
Tapi saya kerjakan semua itu, karna saya tidak tahu dan orangtua saya tidak
pernah memberitahu saya. Dia enak-enakan hadir di majlis ta’lim, saya nyekek
botol didiemin aja. Dia enak-enakkan baca quraaan, saayaa zinah didiemin aja.
Saya bukan tidak mau, orangtua saya sama sekali tidak pernah mendidik saya. Dia
mau benar sendiri. Maka kalu sekarang saya harus masuk ke dalam neraka, saya
menuntut agar orangtua saya ikut bersama-sama dengan saya bergabung ke dalam
neraka. Gara-gara dia tuh saya jadi begini. Orang tuamu yang mana? Tuh yang
barusan mao ke surga. Ini orang tua yang udah mao berangkat ke sorga dipanggil.
Mas, mas, sebentar dulu mas. Iniii, ini benar anak kamu. Iya pak. Waktu di
duniaa kamu tidak pernah ajarin dia ngaji? Ho oh. Sampai dia tidak kenal
tuhannya, tidak kenal nabinya, tidak kenal kiblat dan kitab sucinya. Betul pak.
Dia tidak shalat kamu diamkan saja. Dia tidak puasa, tidak zakat, kamu besikap
masa bodoh. Bahkan dia judi, dia zinah, dia mabuk, kamu pun berdiam diri saja.
Bener pak. Tahukah kamu bahwa anak itu adalah amanah. Menyia-nyiakan amanah artinya khianat, dan khianat adalah dosa yang
sangaat besar. Kamu tidak bertanggungjawab. Maka kamu, anakmu, gabung ke dalam
neraka.
Sudara-sudara
kaum muslimin rahimakumullah, itu sebabnya Allah pesan benar-benar, Yaa
ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa. Hai orang-orang yang
beriman, jaga dirimu dan keluargamu. Isteri, anak, orang-orang yang menjadi
tanggungjawab dan kewajiban kita, jaga dan pelihara mereka dari api neraka.
Dulu
ada satu tradisi saudara-saudara. Kalu anak gadis kita dilamar orang. Orang
lalu bertanya. Anakmu mau melamar gadis saya. Apa sudah khatam quran berapa
kali. Apa sudah bisa, baca kitab macem-macem, apa itu kitab kuning, kitab
gundul, kitab botak? Dan lain sebagainya. Sehingga lahirlah suatu kebanggaan.
Apa pun motifnya tapi pertanyaan semacam ini zaman sekarang sudah langka.
Paling-paling yang ditanya kalu anaknya dilamar orang. Anakmu kerja dimana,
gajinya sebulan berapa, kendaraannya, bebek apa soang apa apa? Iiitu yang kita
pertanyakan berkisar di seputar materi, kerja, job, status sosial dan lain
sebagainya. Perkara bisa baca quran atau tidak, nomor 18. Perkara shalatnya
rajin apa kaga, emang gua pikirin!
Sudara
hadirin, akibatnya terjadi pergeseran nilai. Maka mendidik anak, menurut
tuntunan quran, adalah seperti yang diberikan contoh oleh Lukmaanul Hakiim.
Yang diceritakan dalam surat lukman, mulai
ayat 12 dan selanjutnya. Apa, pendidikan pertama yang harus kita berikan kepada
anak. Pertama, Yaa bunayya laa tusyrik billaah. Wahai anakku, jangan
sekali-kali engkau menyekutukan Allah nak, jaga tauhid, pelihara iman,
mantapkan akidah. Ini, dasar yang pertama. Belum lagi anak mengenal ber-bagai
macam disiplin ilmu, yang pertama kali ditanamkan, tauhid.
Pada
kenyataannya, kita sebagai negara berkembang sering latah. Kita ingin meniru
barat, tapi bukan tehnolojinya, westernisasinya yang kita tiru. Bukan isinya,
kulitnya yang kita ambil. Akibatnya apa? Modernya belum, orangnya sudah barat.
Kadang, kepalanya lah dipikok warna merah, kuning atau warna orange mirip kaya
bajay Bajuri. Bergaulnya sudah cara barat. Berumahtangganya cara barat.
Berpakaiannya cara barat. Mendidik anaknya gaya barat. Kalu ketemu orangtua
cukup bilang, hello dady! Atau Selamet pagi Papi! Manggilnya pake papi, pake
mami, padahal makannya singkong. Pagi bangun tidur, bukannya langsung sholat,
eh malah bilang “makanan semalem masih ada mah?” Yang ada dipikirannya cuman
urusan makan, makan dan makan.... Ironi dan menyedihkan. Memilukan sekaligus
memalukan.
Padahal,
sebenernya umat lain iri kepada kita sebagai umat Islam. Jauh sebelum peradaban
barat ada, orang yahudi dan nasrani bahkan nabi Musa sekalipun, sangat ingin
untuk menjadi umatnya nabi Muhammad SAW.
.
Karena, kalu kita telen mentah-mentah, akibatnya, kata orang Jerman bilang, “kelolodan”. Kalau sudah kelolodan akhirnya kita
sendiri yang kerepotan..
Yang sering kita lupakan, bahwa kehancuran suatu bangsa di manapun di dunia ini
selalu dimulai dari kehancuran moral daripada bangsa itu sendiri. Sekarang
membina moral ini berat, gadis kita remaja putri. Diberikan pakaiana jilbab,
Mungkin dia sendiri masih setengah-setengah, ditambah lagi ledekan dari
temannya. Aaah… jilbab, dah kuno, bau sorgalah, bau mesjidlah, bau menyanlah.
Ditanamkan rasa malu, untuk hidup dekat dengan agama. Kalau moral semacam ini
sudah tertanam, sedikit demi sedikit kita mulai mengucapkan selamat tinggal
kepada agama, goodby shalat, goodby zakat, goodby puasa. Yang celakanya zaman
sekarang, sholat diartiin dengan doa. Ash-sholaatu hia addu’a. secara bahasa
betul arti shalat adalah doa. Tapi bukan seperti itu shalat yang sebenernya. Kalu
semua ibadah diartikan secara bahasa, maka jadi kacau agama kita. Karena shaum
atau puasa secara bahasa adalah memegang. Megang apa kek, apa megang tangan,
megang betis. Celakanya lagi, megang-megang perempuan dibilang puasa! Kan ngaco
kalau udah begitu. Sama juga dengan arti isra-miraj. Isra artinya berjalan di
malam hari. Kalu begitu, tukang ronda berarti isro. Rasulullah isro berarti
rasulullah ngeronda, kan ngaco, bukan?! Miraj artinya naek. Jadi kalu teman-teman
ntar pulang ke rumah naek motor, berarti isro.Iya kan? Jadi shalat cukup dengan
doa, cukup dengan duduk bengooong, ngelamun, adem ayem. Persis kaya ayam sakit.
Kenapa
hal semacam ini bisa terjadi? Hal itu tejadi karena, pertama, kurangnya minat
orang untuk belajar agama. Agama cuman sekedar tinggal dekorasi, agama cuman
seminar, cuman kongres, cuman muktamar. Ketika itu, kata Rasulullah SAW
Wayujharal jahlu, akan muncullah kebodohan, nampak kebodohan di mana-mana.
Muncul permissif sociaty, masyarakat yang merasa boleh hidup dengan koidah serba
boleh, tidak ada halal tidak ada haram. Tidak ada hak tidak ada bathil,
semuanya serba boleh. Kalau sudah begitu kondisi masyarakat, terjadilah apa
yang dianalisa oleh Nabi, di kala itu Wayaksuazzinaa. Zina dikerjakan
terang-terangan. Orang sudah tidak punya malu. Hidupnya sudah pakai prinsip,
punya kuping, kuping kebo, punya muka muka tembok, punya kulit kulit badak.
Kalu juga dikasi tau, eh malu dong kamu belum nikah tinggal serumah. Malu sama
siapa? Masyaratakat. Allaah masyarakat, cuek aja. Emang secara langsung orang
tidak berani bertanya. Tapi dari mulut ke mulut akhirnya tersebar jadi rahasia
umum. Si anu kan punya anu, di anu-anu, anunya seanu.
Kita
tidak mau melakukan kejahatan, jangan cuman karna ada polisi. Kalu karna ada
polisi kita tidak mau jahat, kucing juga begitu. Coba lihat kucing. Taro ikan
asin di piring kaleng. Tongkrongin, Aduh kucing, kaleeem, sopaaan, tenaaang,
Sedikit kita meleng, habbis ikan digarong.
Yang kedua, hancurnya sendi-sendi kehidupan sosial.
Maksiat merajalela, munkarat menjadi-jadi. Yang ma’ruf dianggap munkar, yang
munkar malah menjadi ma’ruf. Yang salah disanjung-sanjung yang benar
dicaci-maki. Tuntunan dianggap tontonan. Tontonan malah jadi tuntunan. Kan
kiamat kalu udah begitu.
Maka dari itu
kita manusia yang mempunyai akal pikiran, seyogyanga kita bersyukur karena
Rasulullah SAW. telah merubah keadaan itu menjadi sekarang ini, walau banyak
dari kita masih melenceng dari jalan-Nya dan walau banyak dari kita masih
terkesima dengan kilaunya dunia.
Bertaubatlah!
Allah masih senantiasa membuka pintu taubat-Nya. Semoga kita termasuk dari
golongan-Nya yang diridhoi, amin.
Rasulullah SAW.
tidak pernah gentar ketika ancaman menderanya, beliau tidak pernah takut kepada
siapapun yang mengancamnya. Beliau Pahlawan yang patut menjadi idola bagi kita
semua.
Bukan malah
mengidolakan artis-artis hollywood yang tidak meninggalkan bekas
sejarahnya untuk Agama Islam.
Maka dari itu, kita sebagai umat Islam, umat yang
telah digiring oleh Rasulullah dari kebodohan menuju kebenaran, wajib bagi kita
untuk berterimakasih kepadanya. Dengan bagaimana? Dengan mengikuti setiap
sunnahnya, dengan mengikuti setiap kebiasaannya. Dengan begitu, Rasulullah akan
mencintai kita. Maka syafa’atnya pun akan kita raih ketika hari akhirat tiba.
Rasulullah pun pernah berkata: “ Barang siapa yang mencintai sunnahku maka dia
termasuk golonganku.”
Mungkin cukup sekian ceramah dari saya, jika ada
kekurangan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan jika ada kelebihan jangan
dikembalikan, saya ikhlas.
Wabillahitaufik walhidayah,
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.